Kliping

Selamatkan Naskah Sunda Kuno

|Pikiran Rakyat, Senin 10 September 2012|

Menurut Ketua Prodi Pendidikan Bahasa dan Budaya Sunda, SPS UPI Bandung, Dr. Ruhaliah, M.Hum, potret pernaskahan saat ini mulai membaik. Ada upaya pemerintah maupun pihak swasta atau LSM yang peduli dengan hal itu. Contohnya Pusat Studi Sunda (PSS), lembaga semacan LSM ini mencoba mendokumentasikan ulang sejumlah naskah koleksi Edi S. Ekadjati (alm.) yang diserahkan ke PSS.

Sedikitnya ada 200 naskah dalam bentuk kertas yang ditulis di atas kertas “saeh” (kertas tradisional) dan 28 mikrofilm. Dalam setiap satu rol mikrofilm, terdapat lebih kurang 40-50 naskah. Naskah-naskah ini ada yang berangka tahun dan tidak. Cotoh naskah yang tidak berangka tahun adalah babad cirebon, Al-quran, ilmu fiqih ilmu agama, dll. Naskah yang berangka tahun ditulis antara abad ke-15 dan abad ke-16 dalam bentuk aksara Arab Pegon.

Sebagian besar naskah-naskah ini belum dikerjakan sempurna. Kalaupun ada yang dikerjakan baru terbatas alih literasi dari Arab Pegon ke Latin. Contohnya koleksi naskah Ciburuy yang ditulis dalam aksara Sunda kuno dan aksara Budha Gunung. Disebut Budha Gunung karena para penulisnya adalah pendeta yang berasal dari Gunung Cikuray.

Isi naskah
Isi naskah dari koleksi Edi S. Ekadjati (alm.) yang kemudian menjadi koleksi PSS berisi tentang agama, hukum, ekonomi, pendidikan, kepemimpinan, dll. Termasuk surat-surat tanah. Naskah yang berkaitan dengan hukum cotohnya tentang bagaimana mengukur tanah, menghukum maling, dll. Banyak juga naskah tentang babad, seperti Babad Baduy, Babad Galuh, dan masalah kesehatan, juga suap.

Penyelamatan naskah dilakukan dua cara, menyelamatkan fisik dan isi. Kondisi naskah yang umumnya nyaris lapuk, mengakibatkan para peneliti untuk berkejaran dengan waktu. :Diupayakan jangan sampai naskah itu keburu rusak,” ungkap Dr. Ruhaliah.

Penyelamatan fisik dilakukan dengan cara memindai naskah dan mengopinya sehingga ada duplikasi. Untuk naskah dalam bentuk mikrofilm, sebelum di-scan harus dilakukan pembacaan naskah dulu dngan menggunakan microreader. Namun, karena tingkat radiasi alat ini sangat tinggi, penyelamatan diganti dengan alat scanner.

Microreader pun jumlahnya terbatas. Microreader koleksi Museum Sribaduga saja sudah tidak dapat difungsikan, sedangkan microreader milik Perpustakaan Nasional (Perpusnas) sebagian sudah rusak. Dengan demikian, scanner menjadi sangat penting perannya dalam menyelamatkan naskah.

Tahapannya menurut Ruhaliah, pertama dilakukan proses scan terlebih dahulu, kemudian dicropping, diedit, baru kemudian dicetak. Proses ini disebut scanning film exposure dan memakan waktu selama setengah jam hanya untuk tiga halaman. Dapat dibayangkan berapa waktu yang harus disiapkan untuk proses bila satu mikrofilm berisi 40-50 naskah.

Dari Belanda
Selain PSS ada dua lembaga lain yang mencoba menyelamatkan pernaskahan ini, yakni Dinas Pariwaisata dan Kebudayaan melalui Bagian Kepurbakalaan Museum Sri Baduga serta Badan Musyawarah (Bamus) Sunda yang dipimpin oleh Syarif Bastaman.
Upaya yang dilakukan Parbud melalui Bagian Kepurbakalaan, sama dengan yang dilakukan PSS. Bedanya, proses pentransliterasian yang dilakukan Parbud berdasarkan pada proyek dan melibatkan sejumlah peneliti yang dibayar. Sementara itu, proses transliterasi yang dilakukan PSS lebih bersikap sukarela.

Terakhir muncul Institut Budaya Sunda (Ibu Sunda) yang juga akan melakukan hal serupa. Di antaranya menerjemahkan buku tentang undak-usuk basa (semacam grammar) yang pernah ditulis oleh Karl Frederick Holle, seorang warga negara Belanda yang pernah tinggal di Garut.

Pupuhu Badan Musyawarah (Bamus) Sunda Syarif Bastaman menyebutkan, ada dua bidang garapan Ibu Sunda, yakni bidang penelitian dan sejarah, termasuk di dalamnya menerjemahkan naskah-naskah kuno dan garapan penerbitan karya-karya sastra Sunda lama.

Penyelamatan naskah kuno ini merupakan bagian dari bidang garapan penelitian dan kesejarahan yang dilakukan Ibu Sunda. Ibu Sunda sengaja memboyong kembali sejumlah naskah Sunda kuno dari Belanda karena konon pemilik buku tersebut akan bangkrut. “Jadi memang sesuai dan pas dengan tujuan kita, kita ingin dan akan meneliti, eh tiba-tiba saja ada yang memberikannya langsung dari sana,” ungkap Kang Iip, panggilan akrab Syarif Bastaman.

Tujuan Bamus Sunda ikut “ancrub” pada hal-hal seperti ini adalah untuk menggali kembali spirit urang Sunda. Mengingat pada masa lalu masih banyak kesalahan, malas bekerja, sedangkan saat ini alam tidak bisa memanjakan lagi. “Itu artinya manusia Sunda harus bangkit, harus menciptakan manusia-manusia yang ahli di dalamnya,” tutur Kang Iip.

Dalam pandangan Kang Iip, kekinian yang bermaslaah itu karena kita tidak memahami sejarah Sunda. “Hari ini kita ada karena ada masa lalu. Kenapa begitu paham dengan sejarah bangsa asing seperti Cina, jepang atau Amerika tetapi dengan sejarah Sunda sendiri tidak tahu,”ujarnya.

Situs di Karawang, kata Kang Iip, usianya lebih tua dari Borobudur. Begitu juga dengan situs Gunung Padang. Orang baru sadar bahwa di Sunda sudah ada kehidupan berbudaya tinggi jauh sebelum Borobudur ada.

Keterlibatan kedua lembaga tersebut, yakni PSS dan Bamus Sunda menurut penilaian kandidat doktor filologi, Tedi Permadi, M. Hum, dari UNPAD, merupakan upaya positif. Semakin banyak pihak terlibat dalam upaya penyelamatan naskah akan sangat membantu terkuaknya khazanah pengetahuan pada masa lampau.

Hal sama disampaikan Dr. Ruhaliah. Pekerjaannya menerjemahkan naskah yang harus bersicepat dengan kerusakan fisik naskah, akan sangat terbantu. Lagipula orang-orang di Bamus Sunda merupakan tokoh berpengaruh di masyarakat sehingga diharapkan akan memberi pengaruh pula tentang keberadaan naskah kuno di masyarakat.

Namun, tedi menganjurkan, saatnya PSS, Bamus, maupun pemerintah untuk bersinergi mengerjakannya. Terutama pada saat akan menentukan prioritas naskah yang akan diteliti lebih dulu. Dengan demikian, upaya penyelamatan isi terkejar juga dengan kondisi naskah yang masih baik. Mengingat kondisi fisik naskah umumnya sudah rusak. (Eriyanti/”PR”)***

About iNs

penggiat naskah Sunda kuna dan kesundaan lainnya.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: